|
| |

|
IBU Negara meresmikan perkumpulan Cita Tenun Indonesia (CTI) di Garden Ballroom, Hotel Dharmawangsa. Kehadiran CTI disambut baik karena dapat mempromosikan kecantikan kain tenun Indonesia. Tampak Ibu Negara didampingi Ibu Mufidah JK memperhatikan kain tenun usai meresmikan perkumpulan Cita Tenun Indonesia (CTI) di Hotel Dharmawangsa, Kamis (28/8) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
|
|
|
Kata Sambutan |
|
DIRGAHAYU INDONESIAKU. TIDAK terasa kita sudah memasuki bulan Agustus, bulan yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Sebab pada bulan ini, tepatnya pada tanggal 17 Agustus pada 63 tahun lalu, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Sejak itu, masyarakat Indonesia terbebas dari penjajahan secara fisik yang berlangsung ratusan tahun tersebut. Dan, untuk mengingat peristiwa yang sangat bersejarah itu setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia melaksanakan upacara, di berbagai lokasi. Selain itu, warga juga melakukan beragam atraksi khas 17-an. Ada lomba balap karung, tarik tambang, pajat pinang, balap sepeda, gerak jalan, makan kerupuk, tusuk balon dan lain-lain. Masyarakat juga menyelenggarakan berbagai hiburan sesuai dengan kondisi dan kebiasaan daerahnya. Ini semua dilakukan sebagai rasa syukur kepada sang Maha Pencipta dan juga penghormatan atas jerih payah perjuangan para pendahulu kita. Usia 63 tahun, dalam perjalanan sebuah negara bukanlah usia yang muda. Namun juga bukan usia yang matang bagi terciptanya sebuah peradaban yang sophisticated. Hingga kini masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh seluruh komponen bangsa, apakah itu masalah pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial dan lain-lain. Kita semua memiliki kewajiban yang sama untuk memajukan bangsa ini agar sejajar dengan bangsa lain. Dalam kondisi seperti sekarang bukan zaman lagi untuk duduk berpangku tangan, dan terus menyalahkan kekeliruan kepada para pendahulu maupun pemimpinnya. Sebagai generasi yang dilahirkan di era digital seperti sekarang ini alangkah eloknya jika bersatu padu dan bersaing untuk menciptakan sebuah kreativitas yang mampu membantu bangsa ini mewujudkan sebuah bangsa yang maju, sejahtera lahir batin dan berada dalam naungan-Nya. Tentu untuk mencapai tahap ini bukan perkara mudah dan bisa dilakukan dalam sekejap. Dibutuhkan sebuah proses dan konsep yang jelas untuk mencapainya. Bila tidak, kita akan terus tertinggal dibandingkan bangsa-bangsa yang lain. Namun dengan keyakinan, kebersamaan dan sikap optimisme yang tinggi maka apa pun kesulitan yang menghadang niscaya bisa atasi. Dengan demikian ucapan Soekarno dalam teks Proklamasi bahwa hal-hal lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya bisa benar-benar terwujud. Kita tidak harus menunggu bergenerasi-generasi untuk mencapai hidup adil dan makmur. Dirgahayu ke-63 RI. (*) |
|
|
|
|
Thursday, 28 August 2008 |
|
PENERAPAN syariat Islam di Indonesia tak akan menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah bangsa, jika pihak-pihak yeng melontarkan wacana itu masih terjebak dalam konteks Arabisasi Indonesia atas nama agama. Penerapan syariat Islam harusnya berpijak pada kondisi NKRI secara utuh di mana akhirnya nilai-nilai Islam dapat bertumbuh dengan fleksibel. "Artinya, ketika norma Islam diterapkan di Arab itu sudah menjadi budaya Arab Islam, begitu pula ketika berada di Sunda jadinya budaya Sunda Islam," ujar Pimpinan Pesantren Luhur Al-Wasilah Garut, Tanthowi Djauhari Musaddad dalam seminar bertajuk "Islam, Radikalisme Beragama dan NKRI" di Fakultas Ilmu Budaya UI Depok, Kamis (28/8). |
|
Read more...
|
|
|
Thursday, 28 August 2008 |
|
DI Indonesia, kerajinan tenun sudah dikenal sejak beberapa abad sebelum masehi. Kepandaian ini merupakan kelanjutan pengalaman dan pengetahuan membuat barang-barang dari anyaman daun-daunan dan serat kayu yang digunakan sebagai busana. Perkembangan tenun terarah pada peningkatan mutu bahan keindahan dan kaya akan simbol serta sarat makna. Demikian disampaikan Ibu Ani Bambang Yudhoyono dalam sambutannya saat meresmikan perkunpulan Cita Tenun Indonesia di Garden Ballroom, Hotel Dharmawangsa, Kamis (28/8) pagi. "Tenun terbuat dari benang kapas dan serat kayu dengan cara memasukkan pakan secara melintang pada jajaran benang yang terpasang membujur. Kain tenunan ini dibuat dengan seperangkat alat tenun yang sekarang dikenal dengan ATBM atau Alat Tenun Bukan Mesin. Kepandaian bertenun merupakan aktivitas budaya manusia yang berasal dari jaman prasejarah yang dikembangkan dalam berbagai masyarakat di berbagai bagian dunia,kata Ibu Ani. |
|
Read more...
|
|
|
Thursday, 28 August 2008 |
|
IBU Ani Bambang Yudhoyono meresmikan perkumpulan Cita Tenun Indonesia (CTI) di Garden Ballroom, Hotel Dharmawangsa, Kamis (28/8) pagi. Tema yang diangkat CTI adalah "Pesona Kharisma Tenun Indonesia". Peluncuran perkumpulan CTI sekaligus mencanangkan sebuah visi dan misi bagi pelestarian, pengembangan dan pemasaran tenun nusantara sebagai karya adiluhung dan warisan budaya bangsa. Anggota Dewan Pengawas CTI Murniati Widodo A.S dalam sambutannya mengatakan bahwa tenun Indonesia sangat kaya ragam dan corak. "Masing-masing ragam dan corak berhubungan dengan kepercayaan dan simbol tiap-tiap daerah. Kegiatan menenun sendiri adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan kaum perempuan di pedesaan. Namun karena proses pembuatannya yang lama dan rumit, kain tenun menjadi cenderung mahal. Hal inilah yang menjadi salah satu kendala berkembangnya kain tenun, bila dibandingkan dengan kain batik misalnya," kata Murniati. |
|
Read more...
|
|
|
Thursday, 28 August 2008 |
|
OBSERVATORIUM Boscha membentuk enam tim astronom yang akan disebar ke enam titik lokasi (kota) untuk memantau kemunculan hilal (bulan) sebagai tanda awal bulan Suci Ramadhan 1429 H. "Tim itu akan melakukan pantauan hilal pada 30-31 Agustus 2008 mendatang di enam titik, hasilnya akan dilaporkan untuk data menentukan awal Puasa yang akan ditentukan lewat Sidang Isbat," kata Kepala Observatorium Boscha Lembang, Dr Taufik Hidayat, di Bandung, Rabu. Tim dari Observatorium Boscha yang masing-masing terdiri atas dua astronom dan satu pakar informasi teknologi (IT) itu akan disebar ke enam titik, yakni Makasar, Kupang, Tanjung Kodok Jatim, Semarang, Boscha Lembang dan Banda Aceh. Keterlibatan Observatorium Boscha dalam membantu penetapan awal Ramadhan dan Lebaran itu merupakan yang kedua kalinya. Hasil pengamatan tim Observatorium Boscha yang dilengkapi dengan peralatan canggih dan IT itu akan melengkapi data yang akan dipakai dalam Sidang Isbat. |
|
Read more...
|
|
|
Thursday, 28 August 2008 |
|
MENJELANG bulan suci Ramadhan yang kemungkinan besar jatuh pada 1 September 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpesan kepada umat Islam untuk mampu menahan diri dari segala tutur kata dan perbuatan yang tidak baik selama bulan suci tersebut. Perbuatan baik itu tidak hanya dilakukan selama bulan Ramadhan saja, tapi juga selama setahun penuh, harap Presiden Yudhoyono sebelum membuka Muktamar Besar PB Alkhairaat IX di Kecamatan Dolo, Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa. Di hadapan lima ribuan undangan yang hadir, Presiden Yudhoyono juga mengatakan masyarakat jangan berburuk sangka kepada pemerintah, terutama dalam penggunaan dana APBN 2009. |
|
Read more...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|






|